Katanya di sana ada kolam pemancingan yang masyhur. Maksud ku orang tak pernah pulang dengan hasil nihil. Pasti saja orang pulang dengan sekarung atau dua sisir ikan dipinggang. Tapi tak pernah orang tak membawa pulang ikan, ada saja hasil tangkapan.
Aku pun tertarik untuk mendatangi kolam pancing yang telah menjadi buah-bibir masayarakat kampung. Tak lupa membawa umpan andalan yang sudah kupersiapkan.
Juga bekal makan di sana. Karena katanya tak ada penjual makanan.Jadi harus siap bontot.
Tertarik akan ikan yang didapat, besar-besar kiranya sebesar tangan orang dewasa. Tentu lumayan buat dijual di pasar dan sisanya buat dimakan keluarga.
Aku lupa menanyakan lokasinya dimana?. Hanya tetangga kemarin mengatakan bahwa lokasinya tak jauh dari wisata Pangandaran. “Kalau begitu tak jauh”, pikirku.
Semua ditutupi salju. Orang menggali sendiri secukupnya agar kelihatan sudah muncul air maka cukuplah untuk segera memulai memancing.
Ada cerita dari tetangga ku tadi. Serorang pemancing setelah melubangi tanah bersalju tadi secukupnya, maka mulailah ia memancing. Dikaitkan umpan di kail, lalu tali pancing di ulur masuk ke dalam lubang tadi. Aneh nya orang tadi harus memakai jas lengkap selayak nya pergi ke pesta dinner. Itu yang kutandai.
Lalu dia dengan hati-hati memastikan bahwa ke dalaman pancing sudah terukur benar.
Dan dia menunggu umpan nya di makan ikan. Tandanya ada terasa menarik-narik pancing nya.
Sebelum tetangga itu meneruskan ceritanya, aku sempat menanyakan bahwa sepanjang kuketahui pantai Pangandaran hanya dipenuhi melulu pasir dan tak ada setakup pun salju di sana. Namun tetangga ku itu bak corong loud speaker terus saja nyerocos, dan mengatakan betul orang yang memancing itu harus berdasi dan ber jas, sampai urat-urat leher tetangga ku tampak melendung karena menerangkan dengan keras.
Sejatinya hanya tetangga ku itu saja yang begitu paham tentang kolam pemancingan yang katanya bersalju itu.
Begitu tali pancing berkedut-kedut, orang itu menariknya. Tapi tiba-tiba sekujur badan panas sekali seperti orang yang membakar diri dengan bensin di sekujur badan dan menyulut nya dengan korek api. Api dengan cepat membakar tubuh. Panas membara.
Orang itu berteriak-teriak bukan meneriakkan minta tolong, tapi dia seperti menginggau menyebut-nyebut nama mesjid berlapis emas di kubahnya, menyebut istana Taj mahal India.
Tangan kanan nya memukul-mukul kepalanya, lalu tangan kirinya membuka dan menumpahkan segemgam butiran emas. Bersinar keemasan
Sebentar kemudian tampak kuda jantan berlari di padang rumput nan luas. Kuda jantan itu sehat dan kuat. Berlari kencang.”Kuda sembrani,”jelas tetangga ku.
Seperti nya dia melihat gadis duduk di atas tali tampar yang tertambat di ketinggian gunung. Namun tampak tenang memandangi sekitarnya. Tak kuatir sedikit pun bak kupu-kupu asyik menyedot sari madu kembang. Selayaknya hamparan sawah luas menguning. Bunga-bunga merah mekar di musim summer. Harimau selonjor kalem dengan perut kenyang. Bayi cantik habis mandi. Balon udara berhasil mengangkasa. Juga seraya air terjun mengalir lembut di hutan basah. Seperti kursi taman di bawah pohon rindang besar di hamparan padang rumput luas.
Kalau lah kuceritakan lagi tak akan cukup sehari, karena tetangga ku itu tak henti-hentinya dengan lantang dan semangat menceritakan pemancing berjas lengkap.
Diujung ceritanya, tetangga ku mengatakan tanpa suara karena yang keluar justru suara penyanyi pop yang melantun kan lagu “”. Aku jadi terkesima dan larut dalam lirik-lirik lagu kebahagiaan. Ternyata aku melihat diriku terbakar selayaknya orang membakar diri dengan bensin disekujur badan dan menyulut nya dengan korek api. Tali pancing terkedut-kedut tanda dimakan umpan oleh ikan, melihat mesjid berlapis emas di kubahnya, istana Taj Mahal di India. Tangan kanan ku memukul kepala kemudian dari tangan kiri keluar butiran-butiran emas, mengalir bak air terjun di hutan basah, seperti buah-buahn segar komplit ada di keranjang, bayi cantik habis mandi, serasa balon udara tenang membumbung ke langit......
Surabaya, 8.10.14
No comments:
Post a Comment