Sebenarnya aku malu melihat sosok diriku. Diri ku yang perawakan nya lebih baik dari adik ku. Aku ganteng , kekar, banyak gadis tertarik pada ku. Sehingga ada dari mereka adalah istri ku. Di sekolah pun aku hampir menguasai cabang-cabang olah raga tak terkecuali futsal. Namun untuk urusan belajar kalah dibanding adik ku.
Sekarang aku sedang melanjutkan kuliah di pasca sarjana sembari bekerja di sebuah perusahaan swasta. Tapi kenapa kemampuan belajar ku dirasa out of date. Sehingga aku berniat melakukan penyegaran dalam belajar. Diharapkan bisa melakukan percepatan penyelesaian perkuliahan Seketika aku ingat adikku yang begitu menguasai dalam hal ini.
Adik ku saat ini sedang dalam tahap akhir mencapai sarjana. Uniknya baru berjalan belum tiga tahun. Merasa tergelitik hati, aku mencoba mengamati bagaimana dia belajar.
Aku menjulurkan kepala ku di beranda atas tempat dia belajar.
“yach, pasti dia,” aku meyakinkan dengan senyum aneh. Terlihat kepala nya membelakangi ku. Dan memang dia di situ. Tergolek tidur terduduk di kursi belajar nya. Kebiasaan.
Tanpa sepengetahuan nya aku mengamati kejadian ini beberapa kali. Tetap sama atau dibilang mirip-mirip saja. Jam 22 lebih dia tergolek di situ. Tangan nya sedang memegang pembatas halaman buku. Telapak tangan kanan tertutup halaman diktat kuliah yang sudah tiga perempat bagian.
Ketika pukul 24.00, adik ku sudah terjaga lagi. Dia turun ke bawah, cuci muka. Tapi kali ini dia mengambil air untuk berwudhu.. Rupanya sholat Isya telat. Ke atas lagi sambil membawa secangkir kopi. Seingat ku dia tidak begitu suka dengan air hitam itu.
Aku mulai menguap, ngantuk. Dibantu rasa penasaran, mataku berusaha kupicingkan.
Syukurlah masih bisa.
Dan dia duduk lagi di kursi belajar nya meneruskan membaca diktat hingga selesai. Ku lihat adik ku menulis dibuku catatan, mungkin menuliskan pemahaman-pemahamannya.
Kemudian aku tinggal ke bawah untuk menyeduh teh. Kali ini aku justru membuat segelas kopi. Adik ku tadi minum kopi untuk menghadapi serangan kantuk. Tapi aku tak tahu yang diminumnya teh pahit atau yang ada gulanya. Kata orang kopi yang pekat dan pahit yang bikin mata melek. Baik nya kutambah kan gula secukupnya biar terasa manis.
Adik ku terhenyak dari kursi. Kayak nya habis tertidur lagi. Tapi dia tidak beranjak dari situ. Malah meneruskan belajar dengan semangat. Kulihat jam di dinding sudah jam 2 pagi.
Aku sempat tidur ayam. Karenanya ada terlewati. Kulihat kursi adikku kosong. Lebih dekat lagi,” Benar...kosong.” Pergi ke kamar nya, ..memang sudah tertidur di spring bed.
Lalu terlintas dalam pikiran, “ Berarti dia sudah tahu kalau diamat-amati.
Aku tertidur, ...tadi.”
--------------------
“ Manto, manto..... Cepat dong. Aku bisa telat ke kantor nich “, teriakku. Biasa adikku yang satu ini nyanyi di kamar mandi. Kalau sudah begini lupa akan sekitarnya.
Suaranya bagus kalau di dengar oleh dirinya sendiri. Aku sudah berulang-ulang mengatakan, suara nya seperti ember pecah. Juga tak dipedulikan.
Kesukaan nya bernyanyi di kamar mandi, pernah kutanyakan suatu ketika.
“Ini bisa meluapkan emosi yang terpendam. Biar plong mas Bud,” kilahnya.
“Tapi kenapa setiap hari ?. Iya, kalo suara mua merdu kayak Judi K. nggak apa-apa. Tapi ini..ayam pun kabur.”
“ Jangan begitu toh, mas. Saya ini lagi menghibur diri. Dimana lagi tempat yang bebas kalau bukan di kamar mandi. Mas Budi enak, dah punya istri, anak. Sedang aku masih sendiri, “ dia merunduk sedih.
Sejenak aku terhenyak. Ingat pesan kedua orang tua ku yang sudah tiada. Memang setelah orang tua, tanggung jawab adik ku tertumpah kepada ku. Termasuk masa depan nya. Selayak nya aku meng akomodir apa pun selagi itu baik buat adik ku. Di dunia ini hanya aku tempat curahan nya...pengganti ayah bunda.
“ Aku maklum Man. Tak usah kau pikir serius. Kami tak terganggu, kok. Hanya kami kuatir..takut, kalau-kalu bisa keterusan,” aku tak melanjut kan.
“ Tapi baik juga..alasan mu itu. Lanjut kan. Hanya ingat di luar sudah ada yang antri mandi,” lanjut ku.
“Keterusan...hihihi...,” sambil melenggok-lenggokkan badan dan berlalu. Aku geleng-geleng kepala. Begitu lah bila sedang jomblo. Aneh-aneh saja.
---------------------------
Ketika sekolah di SD, kami sering bermain berdua, Jarak usia ku empat tahun. Tapi kami secara naluri bisa akrab satu sama lain. Bahkan teman ku jadi dobel. Begitu pun adik ku.
Maka teman adik ku suka bergabung pula bila bermain.
Di sebelah kantor dinas bapak, ada Kantor Pos pusat. Halaman nya pun luas. Seusai sekolah, ganti pakaian, mandi, makan, kami selalu bermain di situ. Mungkin saja yang tadi..halaman luas, juga banyak lorong-lorong seperti di rumah sakit umum. Sehingga menarik untuk selalu ke sana.
Kali ini, bersama dua teman lain nya, kami main petak umpet, kelereng atau main permainan anak-anak yang lain sampai capek.
Setelah itu bila diantara kami ada uang, kami pergi ke kaveling pojok belakang. Di sana ada warung khusus atau kantin orang menyebutnya. Lengkap sekali. Dari jajanan basah hingga gorengan komplit. Juga tersedia macam-macam lauk-pauk dan nasi. Situasinya ramai..sedikit berdesakan, maklum tak terlampau luas. Kepulan asap dapur, asap tuangan kopi menyatu dengan asap rokok. Tempat makanan diletakan lebih tinggi dari kami. Ketika aku menyadari bahwa aku masih kecil, aku tersenyum geli. Pak Gadok, yang punya kantin, selalu ramah melayani pembeli. Begitu pun kepada kami.
Bila uang jajan habis atau ibu tidak kasih. Entah aku tak mengerti. Bahkan ibu menyuruh mengumpulkan telur-telur ayam kampung di kandang belakang rumah, untuk dijual ke pasar. Belakangan saat dewasa baru aku tahu maksud ibunda. Di pertengahan bulan kami sudah menandai dan kebanyakan betulnya. Pada tempat pembuangan sampah kantor pos,
banyak sekali bekas plat-plat penyegel kotak kiriman. Juga kawat almunium. Diam-diam kami kumpul kan dan dijual ke pasar loak. Kalau lagi beruntung kami bisa dapat uang banyak untuk ukuran kami. Tapi bisa juga tidak dapat apa-apa karena keduluan orang lain atau memang sudah diangkut ke tempat penampungan sampah kota.
“ Kalo sudah begini...pahit..pahit...pahit,” seloroh kami serentak.
Kalau kami bosan bermain di kantor pos, di seberang jalan gang ada bekas benteng VOC. Orang bilang benteng Kuto wali. Di dalam nya sekarang telah berubah fungsi jadi museum, perumahan prajurit dan rumah sakit umum. Rumah sakit umum inilah yang tak jauh dari kantor pos. Sepanjang bekas benteng ada parit sedengkul kaki orang dewasa, namun jernih. Banyak ikan-ikan kecil warna-warni ditutupi ganggang air. Hal ini menarik perhatian kami. Dan bisa berlama-lama. Adik ku waktu belum tahu, ikan itu banyak ditangkapnya. Kemudian dimasukkan plasitk yang sudah dia persiapkan, lalu dibawa pulang untuk dipelihara, maksudnya. Ia ngotot menangkap ikan kecil yang warna-warni, tidak yang kelabu-kehitaman. Alasan nya lebih menarik. Ternyata aku dan adik baru tahu bahwa baik yang warna-warni maupun bukan sama saja. Karena setelah dua minggu ikan itu semua jadi anak katak.
Seusai menjual “barang-barang” tadi, kami menyusuri pinggiran kali Musi. Banyak perahu sampan merapat penjual buah duku kesukaan kami. Lumayan dimakan bersama, sebagai pelepas lelah usai bermain.
Untuk pulang ke rumah kami harus naik becak, karena akan melewati tikungan jalan tempat rumah penjual kayu bakar. Ada anjing hitam besar yang siap menyalak dan mengejar tiap orang atau becak lewat di situ. Kami sangat takut dan katanya kalau digigit anjing bisa mengakibatkan gila. Menyeramkan.
Hanya waktu kami lewati tikungan, tak terdengar gonggongan anjing hitam dengan larinya seperti leopard. Kami baru tahu setelah ibu menceritakan bahwa anjing hitam yang menakutkan itu di bunuh orang tak dikenal sebulan yang lalu.
----------------------
Perasaan cemas, kuatir, dan takut sewaktu bersekolah di bangku sekolah dasar, terulang kembali waktu pertama kali masuk di SMP. Mungkin lingkungan baru, ruang-ruang kelas yang lebih banyak, di antara murid belum ada yang aku kenal. Apalagi guru-guru nya juga baru. Belum lagi ada guru yang galak...
Tapi seiring berjalan nya waktu dan kebiasaan, hal-hal itu lambat laun akan hilang dengan sendiri nya.
Teman SD ku banyak yang tidak berseragam. Malah ada yang tidak pakai sepatu. Lucunya mereka tetap bergairah ke sekolah. Jalan kaki melewati kampung sawah. Sampai di sekolah kaki belepotan dengan tanah. Prihatin sekaligus mengundang tawa.
Aku banyak berkenalan dengan hal-hal yang belum mengalami sebelum nya. Berenang di tambak ikan, yang waktu itu masih banyak di jumpai. Berlari dalam hujan tanpa baju tanpa celana. Berharap hujan jangan berhenti. Namanya anak-anak selalu bahagia meskipun nanti bisa kena marah ibu, karena hujan-hujanan. Orang bilang kalau masa anak-anak nya bahagia ketika dewasa akan lebih mudah menjalani hidup.
Di SMP aku berjumpa teman-teman yang beragam. Lebih banyak anak-anak keluarga mampu ketimbang yang tidak. Dari guru kami di ajarkan untuk berperilaku bijak terhadap hal ini sehingga hampir tidak ada kesulitan untuk berinteraksi satu sama lain. Sesuatu yang tidak begitu baru buat ku.
Saat rehat dan kami bicara banyak, Frangki teman ku berkata,
“ Bud, percaya tidak?! Ada kesamaan yang kita alami jika baru pertama kali berenang dan berkendara motor.”
“ Apa..itu?,” aku ingin tahu.”
“ Kalau kita belajar berenang, baru dapat berenang ketika hidung dan mulut sudah kemasukan air kolam alias kelelep. Lain lagi belajar mengendarai motor.”
“ Apalagi, itu?.”
“Begini,” katanya sambil membetukan kaca mata minus nya. “ Kalau naik motor, baru bisa kalau sudah mengalami kecelakaan kecil. Pengalaman baru bisa naik motor Vespa ku waktu aku terperosok di selokan rumah menghindari sepeda ontel yang tiba-tiba melintas. Untung nya hanya lecet di kaki sedikit. Aneh nya setelah kejadian , berkendara motor bukan kendala lagi. Aku bisa ngebut seperti kumbang jalang.”
“ Aah, bisa aja kamu..”
“Ini serius Budi,”
“ Tapi aku belum membuktikan cerita pengalaman mu.”
“ Baiklah.. Tapi rasakan sendiri sensasi nya,” kata Frangki sambil ngeloyor pergi, bersamaan dengan bel masuk berbunyi.
“ Masak sech seperti itu ?,” kata ku belum mengerti...
--------------
Aku kaget tatkala melintasi kamar adik ku. Keluar hawa harum semerbak melintas masuk hidung. Seperti ada hal istimewa. Sore hari yang cerah.
Baru tiga kali melangkah pergi, adik ku menepuk punggung dan berkata,
“ Mas Broo..anu, boleh ya, aku pinjam sepatu pantofel kakak ?.”
“ Kenapa bisa begitu, “ jawabku berpura-pura acuh.
“ Nanti malam, ada acara ulang tahun teman. Kan mas tahu sendiri, tiga sepatu ku kets semua. Udah belel lagi, Nggak pantas dong,” kilah nya.
“ Nggak apa-apa, pake aja sepatu kets. Kan tempat nya di bawah, siapa yang melihat?.”
“ Tapi kak, ini pesta ulang tahun yang pertama kali kuhadiri. Ini istimewa.”
“ Oke, tapi nanti aku dan istri juga di undang pesta di rumah bos. Pake sepatu kets saja.”
“ Sebentar, kak, “ jelasnya. “ Ini penting, karena yang ulang tahun pacar ku.”
“Ooi, rupanya kamu sudah punya pacar. Bilang dari tadi.’’
Aku agak senang mendengarnya. Semoga saja ada kelanjutannya. Yang paling penting beberapa hari ini aku tak lagi mendengar nyanyian sumbang dari dalam kamar mandi.
“ Mas..mas, boleh pijam mobilnya ?...........
--------------------------
Surabaya, 12.9.14