Aku telah berdiri di pelataran tugu Monas. Menjulang kokoh kearah langit. Aku berasa kecil di hadapannya.
Mendongak ke atas, bercokol emas di pucuk tugu. Kebanggaan penduduk negeri.
Namun tampak dalam segenap mata memandang, Monas tak nampak seperti ujud nya asli. Penuh rangka baja dan menjulang ke angkasa. Seperti menara Eifel yang pernah kukunjungi kali kedua (mungkinkah ini yang ketiga?). “Ya benar, aku berada di bawah menara Eiffel, menara tanpa dinding,” sambil kucubit tangan ku seraya tak percaya.
Dan kulihat laki-laki dengan seragam militer berperut gendut sedaqng menggandeng wanita anggun lebih tinggi dari laki-laki tadi. Mereka tersenyum memandang ke arah ku.
Tak lama wajah mereka seperti telah berubah. Yang lelaki seperti wajah aku, sedang wanita itu berubah wajah jadi sosok Lana, kekasih hati ku. Emosi ku menggelegak.
Bertemu di menara Eiffel,”Ya aku ingat jadinya”.
Kita bertemu di bawah menara Eiffel. Saat bertemu aku nmengenakan jaket berkerudung.
Dan Lana memakai blouse beludru bercelana jeans sama dengan ku. Kupegang tangan nya. Dingin. Hambar terasa.
Lalu kita menghabiskan malam, berlama-lama di toko kaset pinggiran Paris. Membuka cover cd tertulis lagu-lagu yang kumandangkan musisi jazz-pop era delapan puluhan. Aku sudah yang kedua kalinya ke sini (mungkinkah yang ketiga kalinya?).
Berjalan di bawah temaram rembulan yang mengintip kami di sela-sela pepohonan rindang. Sangat romantis. Bertolak belakang di dalam hatiku.
Diiringi dentuman tetes hujan di pohon rindang sisa hujan sejam lalu, menetes pada kolam yang njernih namun tenang. Ditambah hembusan angin dingin cuaca Paris. Hatiku menerka perasaan mu.
Rumput ilalang di kampung seperti bergumul tak terwat. Di sini tertata rapi. Resik. Membuat orang ingin berlama-lama merebahkan tubuh, menikmati udara malam. Temaram lampu-lampu taman berderet seperti deretan gigi....putih memanjang.
“Dari tadi kau tampak memangku kepala di tangan mu? Lihatlah bulan menguning bundar di atas. Apakah kita sudah saatnya berpisah?. Bukankah kita hanya berjanji bertmu di nsini?. Tapi kita sudah tak ada . Cinta kita?
“Kenapa begitu?”, selaku.
Dia diam lagi dan meneruskan berjalan ke arah dermaga..
“Lilin di tangan ku sudah meleleh sempurna. Mana mungkin aku kembali kepadamu.
Ada luka di hati yang telah kau goreskan. Lilin di tangan telah meleleh sempurna.”
Sementara langit tanpa awan tak berwana biru....gelap. Malam semakin larut. Tapi aku tak melepaskan tangan nya di kursi, dekat dermaga.
Di seberang tampak gedung-gedung pencakar bersinar lampu. Selalu kokoh, seperti patok-patok kayu penahan ombak laut yang igin menjilat-jilat jalanan dermaga.
Dia lalu berjalan melepaskan tanganku ke arah pasir pantai. Tanpa suara. Aku menatapnya terus berjalan di kegelapan pantai. Hanya desiran ombak sesekali memecah kesunyian....hingga dia tak tampak lagi dari pandangan ku.
Aku tersadar ketika orang berkaos merah bergambar laki-laki gendut pesolek menegurku.
Pucuk Monas tampak pijar, menjelang malam yang telah tiba. Paris..Paris fatamorgana.
Semarang, 11.10.14.
No comments:
Post a Comment