....kayaknya aku merindukan suasana dulu waktu balita. Sering papa dan mama mengajak
ku ke tempat-tempat rekreasi...menyenangkan hati. Hampir tiap dua minggu sekali kami
pergi. Kadang pergi ke Kebun Binatang, Ancol, Taman Mini, Water Park. Atau hanya
jalan-jalan santai minggu pagi sekedar menikmati hawa segar.
Papa dan mama juga suka mengajak keluar di malam miggu ke warung jalanan nggak jauh dari rumah.
Aku sering menatapi papa mama, selalu merakah, semringah, riang. Atau terkadang papa
sesekali menggoda, keluarkan candaan nya membuat aku tertawa terpingkel-pingkel. Rupa nya papa pandai juga melucu.
Hujan di luar rumah masih belum reda. Aku melihat dari kaca nako. Tampak embun yang menempel, menetes dan jatuh ke bawah nako. Aku sedih melihat mama selalu melamun. Kadang air mata di pipi. Aku tahu mama sudah tak akur lagi dengan papa.
Sejak papa di mutasikan ke bagian marketing oleh kantor, sifat nya berubah drastis. Memang tidak seenak dulu waktu di bagian keuangan. Di marketing papa harus mengejar target penjualan mobil. Untuk itu papa harus cepat beradaptasi dengan pekerjaan yang sejak dulu belum pernah terkuasai. Papa yang biasa di ruang yang sejuk dan di belakang komputer, sekarang harus menghasilkan uang dengan menawarkan langsung ke pembeli.
Ini lama ke lamaan membuat beban dan tekanan pada papa.
Keadaan ini di tambah harus menghidupi tiga orang anak termasuk aku, yang sebentar lagi menghadapi ujian akhir kelas 3 SMP.
Papa pulang sering mabuk dan marah-marah pada mama. Dan makin meruncing akhir-akhir ini, ketika mama menemukan nomor hape dan foto wanita di dompet papa.
Aku jadi takut dan cemas. Papa hanya marah dan marah tanpa menunjukkan itikat penyelesaian yang berarti.
Dada ku sesak memikirkan ini. Kadang aku tak tega harus membohongi adik-adik yang masih balita menanyakan kenapa papa suka marah-marah.
(BERSAMBUNG)
No comments:
Post a Comment