Sari meregangkan kedua tangan dan kaki di jok kerja nya. Sudah jam 20.35. Waktunya berkemas untuk pulang ke rumah.
Sementara hape nya berbunyi, di layar tertera nama anaknya. Sofia.
“Mama cepat pulang. Sofia kesepian. Pulang..ya..ma”.
“Ya sayang. Sejam lagi mama sudah tiba di rumah, Sabar..”.
“Dach”, sambil memencet tombol lift, yang berada 50 meter dari kantor Sari lantai dua puluh gedung SuperIntender.
Tak lama pintu lift terbuka. Di dalam kosong. Biasa nya agak penuh. Kantor Sari di lantai dua puluh, tapi masih ada tiga lantai di atas nya.
“Betul sepi dan kosong. Mungkin ini jam waktu lembur sudah lama lewat..”, Sari bergumam dalam hati. Tapi itu pun tak biasa seperti ini...
Kala Sari berpikir, pintu lift tertutup. Tapi tiba-tiba ada tangan yang menggapai cepat lalu menahan tertutup nya lift, sehingga pintu lift otomatis terbuka kembali. Dan tampak seorang wanita rambut pirang, lebih tinggi dari Sari, masuk ke dalam. Cepat namun dia membelakangi Sari. Barulah lift tertutup dan mulai menuruni lantai demi lantai. Udara di dalam kotak sempit itu serasa lebih dingin menyelinap ke dalam pakaian.
Hati Sari kepingin cepat-cepat sampai di lantai dasar, tapi mengapa lift seperti berjalan lambat, hal in tak tak biasa di rasakannya. Sari berusaha menekan perasaan yang mulai meradang...
“Ting !”, tanda lift berhenti dan membuka. Tapi tak ada orang yang masuk. Kosong.
Sari berharap wanita yang bersama nya segera keluar. Wanita pirang tinggi itu malah
berdiri mojok di sudut kiri dia. Dan selalu saja membelakangi nya.
“Ting”, lift jalan lagi.
“Masih lantai 13. Uuhh...laamaa sekali”, keluh Sari dalam hati.
Terbayang sudah saat tiba di rumah bertemu anaknya, Sofia memeluk dalam-dalam.
Mencium keningnya, membelai rambutnya. Lalu menyantap bersama makanan kesukaannya, ikan bakar ibu Salimah. Menyenangkan sekali....walau tanpa Irfan lagi.
Perlahan wanita tinggi pirang itu membalikkan badan. Tapi kenapa wanita tua itu menatap aneh dengan senyum tertahan. Kadang di selingi senyum kecut, mmenambah rasa aneh dan merinding di hati Sari. Namun ia menekan perasaan nya, berusaha menguatkan hati...Sari membuka pembicaraan sekenanya,
“Ibu bekerja di lantai 20, juga ?”.
“Dia mengangguk tanpa berkata “.
“Sudah lama bekerja di sini ?”.
Dia tersenyum kecut, mata nya seperti membesar, lalu tersenyum biasa. Dan menjawab dengan suara mendesis,
“Saya lebih lama lagi dari anda..”, kembali tersenyum dibarengi bau bangkai dari mulutnya. Kemudian berjalan selangkah ke depan Sari. Membuat Sari seketika berjalan
Mundur ke arah pintu agar tangan nya bisa menggapai tombol lift.
Sementara lift seperti meluncur lepas tak terkendali, membuat lampu menjadi kecil sinarnya. Tangan Sari sia-sia saja menekan tombol lift. Pintu tetap tertutup rapat.
“Aku penghuni kantor bernomor 2013”, sambil terus merapat ke arah Sari. Sambil tertawa menyeramkan...membuat jantung berasa copot, lalu Sari berteriak kuat minta
Tolong. Tapi tenggelam di telan suara tawa nenek tua penebar bau busuk menyengat di ruang sempit lift.
“Siapa pula yang akan mendengar teriakan mu,” ejek wanita itu.
“Toooloooong..tooolooong,” demikian Sari terus berteriak bersaut-sautan dengan suara tawa nenek bule beraroma busuk. Hingga suara Sari lamat- lamat menghilang.......
Kursi jok Sari hampir saja terjungkal apabila dia tidak terjaga dari mimpi buruk.
“Rupanya aku tadi tertidur di jok ini”, sembari menenangkan diri.
Tetapi tak lama dia bergegas keluar dari kantor nya dan tak lama sopir pribadi yang di telpon nya setelah sadar tadi sudah menanti di depan lift.
Berasa campur aduk, bulu roma bergidik. Dan dia melihat jam nya tertera tanggal 13 pukul sepuluh malam lewat. “Haah...tanggal 13 malam jum’at......apakah hanya sebuah kebetulan saja........”.
No comments:
Post a Comment