"Kita bertemu di ujung jalan-Anenue 4st- tempat kau di potret dulu. Kini aku sudah punya gambar mu," Arian serius memandangi.
"Kok kamu tahu tempat ini ?".
"Aku beberapa kali melakukan pemotretan di tempat mu itu".
"Oh..ya". Aku senang sekali berjumpa dengan mu," dia agak berteriak sedikit.
"Kau cantik sekali", puji Arian.
"Oh, ter-ri-ma kasih," ungkap nya agak cadel.
Dia sambil menarik nafas panjang dan memandang ke arah Arian,"Aku memang manis. Tapi kenapa kamu tak menanyakan aku siapa ?!".
"Tak perlu , karena kamu sangat terkenal".
"Sebentar, ya. Aku angkat telpon dulu, ada yang perlu dengan ku"
"Silahkan ".
Arian agak menjauh dari nya, tapi masih tetap dapat melihat dari teras luas dekat taman. Sambil menelpon tetap saja memandangi nya dari jauh. Bibir nya yang selalu merekah, rambut blondi setengah leher dan...dan gaun nya dibiarkan terbuka sehingga hampir terlihat bagian terlarang. Tapi selalu saja merekahkan bibirnya menantang nafsu setiap pria yang melihat. "Aku sangat cemburu, kau telah lama bersama nya", dengan memelototi nya. Kemudian Arian tersenyum kembali dan mereka akrab kembali.
"Kau membuat jatuh cinta", katanya beberapa saat.
"Aku senang mendengarnya. Hanya kau jangan keliru, sayang. Aku orang yang tak merasa bahagia. Aku selalu di bayang-bayangi masa lalu yang buruk. Sejak bayi kehadiran ku di dunia sama sekali tidak dikehendaki orang tua ku. Aku justru banyak berhutang budi pada media masa yang melejitkan ku. Ada seorang wartawati yang baik banget sama aku, yang selalu mempromosikan lewat tulisan-tulisannya sewaktu masih seorang bintang tak tenar.
"Oh, begitu. Tapi aku mencintai mu", desak Arian.
"Dengar kan, sayang. Aku sampai merubah namaku menjadi yang sekarang kau kenal. Dulu aku bernama Jane. Kau tak cemburu, kan. Aku banyak dekat dengan banyak aktor dunia".
"Tidak, sekali mencintai akan tetap mencintai mu", kata Arian melolong bak srigala.
"Kita sudah berjauhan tempat. Dan kau tak mungkin menemukan ku lagi.....".
"Kenaapa?"
"Karena kita sudah berbeda dunia. Aku sudah tidak ada di dunia ini".
"Haaaaah........"
Sekejap Arian jatuh terkapar tak sadarkan diri......
"Kenapa, dia ?" tanya dokter Santoso.
"Pingsan, pak dokter !. Dia baru satu minggu di sini. Dan selalu berperilaku begitu. Nanti juga siuman lagi," jawab mantri Dodi.
"Kalau begitu bawa ke tempat unit diagnosa. Nanti saya akan terapi".
"Baik , pak dokter", lanjut mantri.
Pasien-pasien Rumah Sakit Jiwa Dokter Raharjo sedang di arahhkan ke lapangan untuk di ajak melakukan senam pagi. Jadwal rutin setiap hari senin. Sementara Arian di atas kereta dorong tangan nya masih menggenggm erat potret Marilyn Monroe.........sang kekasih.
a
No comments:
Post a Comment