Ini jam sepuluh pagi, hari minggu. Berdiri di terminal bis Pondok Kelapa. Dia akan meninggalkan kota. Bandung selalu melekat di hatinya. Tak tahu lagi kapan bisa mengunjunginya lagi, karena dia akan menhabiskan hari-hari liburan nya di kampung
bersama keluarga. Rasa pilu dan bersalah selama bermukim kini berubah menjadi rasa kangen yang begitu dalam. Tak disangka selama ini dia tinggal dekat hotel Panejar selama empat tahun. Ia berkata dalam hati sambil mengunyah permen karet. Bahwa tak mungkin dia bisa menemukan cuaca sebaik kota Bandung, untuk menanam stroberi.
Seorang bartender yang datang membawa kopi dan roti berselai stroberi berkata dengan nada mencibir,”bos akan meninggalkan kami dalam waktu panjang?”.
Dia tersenyum dan menganggap biasa. Saat itu datanglah seorang wanita yang dikenalnya sebagai “dewi” nya cafe Stromboli. Wanita itu datang ke cafe setiap bulan, tapi sejak beberapa bulan terakhir perempuan itu menghilang. Bergaun blouse marun, you can see.
Dan berkalung liontin emas menawan hati. Dia duduk di dekat pemilik cafe-Edward. Agak kaku memang berbicara, tapi biasanya begitu bila bicara dengan majikan.
“Cantik, ya..”, tanya bartender berbisik. Dia tadi melihat matanya bundar dan kedua pipinya memerah tekena sinar lampu. Dengan sekena nya dia menjawab,”Dandanannya menggoda iman...!!”.
Hari ini dia menjelang pergi. Udara memang agak dingin. “Aku sudah di Bandung ini selama empat tahun tapi aku belum pernah sekalipun mengunjungi Kebun Binatang atau teropong bintang Boscha. Juga kali ini....,” katanya kepada bartender.
“Apalagi di kota sekecil Jatibarang, bos tak akan menemukan apa-apa di sana”, kata bartender menimpali.
Dia melayangkan tatapan undangan sebagai isyarat, sementara di cafe ada dua pemain bilyard. Gayung bersambut.
“Menjauhlah”, katanya kepada bartender.
Si wanita mendekatinya, kemudian bartender menawarkan segelas bir. Bartender meyakinkan bahwa ini pertemuan yang indah.
“Anda seperti patung”, katanya dingin.
Dia mengangkat alis nya.
“Anda perlu pelayanan yang agak lama dan butuh sedikit kesabaran!”, lanjut si wanita.
Supaya tidak kelihatan grogi, dia mengangkat gelas tanda perkenalan. Keduanya saling berpandangan. Diam.
“Rumah ku tidak jauh dari sini”, dia dengan sedikit penekanan suara.
“Sembilan ratus..sekarang terserah kamu”, kata perempuan itu tanpa basa-basi. Lalu dia memasukkan uang ke dalam tas. Keduanya meninggalkan cafe.
Sesampai di rumah, wanita itu memuji interior yang ditata rapi. Pria itu memanggil pembantunya kemudian datang lagi membawa buah-buahan - beberapa pisang tapi lebih banyak stroberinya. Diletakkanya di atas meja dekat ranjang. Lalu keduanya berpelukan tanpa sepatah kata sebelum nya.
Dalam sepi terdengar suara ranjang berderit. Gelap menyelimuti kamar yang tertutup. Jendela diterpa angin. Suara hujan berirama di atap.
Dia menatap keluar jendela dengan pandangan sendu, lalu berbisik,”Cuaca sedang panca roba. Kurang sehat”.
Namun dia merasakan kehangatan dan istirahat yang dalam. Saat menjelang gelap, ia julurkan tangan untuk menyalakan lampu. Denting suara hujan masih saja terdengar. Ia menatap mata wanita terpejam seperti tidur. Ia kagum memandang kelopak matanya yang seperti kembang. Ketika dia berkaca, wajahnya tampak kuyu. Suara hujan tak terdengar lagi
“Kamu tidur ?” tanya dia.
“Aku tak biasa tidur sebelum fajar,” kata si perempuan tanpa membuka mata.
Dia menggigit dan mengunyah stroberi dengan lembut di antara bibir nya yang tebal. Sedang si perempuan duduk bersila di lantai.
“Kata majikan ku, kamu akan pergi besok. Ngomong-ngomong kamu belum kasih tahu nama mu,” tanya si wanita.
Dia tersenyum. Dan teringat bahwa mereka belum berkenalan sebelum nya. Ia mengatakan bahwa namanya Warjo. Mengaku sebagai karyawan yang akan di mutasi ke Jatibarang. “Nama ku Aida”, katanya sambil mengunyah stroberi.
Warjo berkata dalam hati,”Nama yang asing dan indah, tetapi tentu nama palsu. Sebagaimana segala sesuatu dalam kencan ini,”Palsu”. Dia kini merasa bosan. Ketika Aida menceritakan kisah-kisah pribadinya, Warjo sama sekali tidak tertarik.
“Rumah dan perabotnya sudah kujual. Besok rumah ini segera di tempati orang lain”, jawab Warjo waktu Aida menanyakan rumah dan perabotnya.
Minum, pisang dan buah stroberi hampir habis. Kalau bukan uang sembilan ratus ribu, Warjo tentu sudah membuyarkan kencannya.
Di puncak kegusaran nya, Warjo melihat Aida mengambil tas yang diletakkan di atas kursi dan mengeluarkan uang sembilan ratus tersebut. Warjo memperhatikan penuh tanda tanya, ketika Aida beranjak ke sisi lain dari ranjang untuk meletakkan uang tersebut dalam laci. Ia memandang Warjo dan tersenyum. Warjo melihat tatapan mata perempuan itu seperti polos tanpa dosa.
“Mengapa ?”, tanya Warjo.
“Uang ini ku kembalikan”, katanya tanpa berkedip.
Warjo terperanjat. Dia sama sekali tidak mengerti.
“Kamu mengerti tapi pura-pura bodoh”
Warjo bersumpah kalau di tidak pura-pura bodoh.
“Dalam suasana begini, tak selayak nya aku menerima uang”, kata Aida.
“Dalam hal bagaimana ?”, tanya Warjo.
“Cinta !. Demikianlah kulakukan kalau aku menyukainya”.
Warjo merasakan sepercik kebahagiaan merayap dalam hati. Perasaan itu seperti menggetarkan dinding-dinding rumah. Namun dia segan menerima uang itu.
“Jangan !, ehmm...”.
Belum sempat Warjo berkomentar, Aida keburu menggelendot dan mencium nya. Ia tak bisa meneruskan kata-katanya. Tapi kini dia betul-betul bahagia dan berniat menikmati segala sesuatu yang mungkin bisa ia nikmati.
“Bagaimana kalau kita pergi bersenang-senang malam ini ?”
Keduanya pergi ke club Instant di jalan Dago. Di sana Warjo leluasa memenuhi keinginan nya. Setelah puas minum, keduanya berdansa. Saat beristirahat Warjo melihat seorang pemuda yang memandangi Aida secara khusus.
Dia bersiap menghadapi segala kemungkinan yang tidak menyenangkan. Pemuda itu mendekati Aida, menyapa, lalu mengajaknya berdansa. Warjo marah.
“Ini kebiasaan di sini. Biasa, Tidak apa-apa”, bisik Aida menenangkan.
“Aku tidak suka”, kata Warjo geram.
“Pergi ! “, bentaknya dengan mata melotot.
Tak terdengar jawaban, tetapi lalu keduanya terlibat perkelahian seru. Warjo berhasil memukul perut lawan nya hingga oleng hampir saja terjengkal kalau tidak ditolong bartender. Karena Warjo dalam keadaan mabuk, Warjo pun terhuyung-huyung. Pemilik cafe menyeruak di tengah pengunjung menenangkan keributan. Musik pun mengalun mengjak para pengunjung berdansa. Warjo kegerahan. Aida berusaha melepaskan dasi yang menjerat di leher. Sedang luka yang mengenai dada nya tak begitu dia pedulikan.
Luka-luka itu hanya berpengaruh beberapa saat. Ia menemukan keseimbangan. Ia segera meneguk minuman yang ada. Beberapa orang memelototi keduanya.
“Mari kita pergi saja”, ajak Aida.
Keduanya meninggalkan club . Puluhan orang memandangi keduanya dan mencibir, tapi Warjo malah senang dan bangga. Ada gurat keangkuhan di wajah nya.
Setelah tiba di rumah Warjo, Aida membersihkan luka dan mengusap-ngusap pelipisnya. Sementara dirawat Warjo bernyanyi-nyanyi. Aida tertawa mendengar suara Warjo yang katanya kurang enak didengar. Warjo tidak peduli. Baginya yang terpenting ia terhibur. Dia pun terus bernyanyi, kemudian juga berbicara tentang cinta.
“Tak terlukis kan ....”.
Warjo mencium Aida dengan mesra lalu berkata, “Aku harus kembali ke Bandung kalau ingin banyak bertemu dengan mu nanti”.
Ketika dia terdiam, terdengar suara guntur di luar jendela. Ia tertawa.
“Cuaca di kota mu memang sedang pancaroba tapi menyenangkan”.
Pagi hari keduanya bangun. Warjo membuka jendela. Udara dingin masuk dan nampak langit tertutup awan kelabu. Tak bergairah. Aida duduk di atas ranjang, rambutnya tergerai, matanya sembab dan pandangannya kuyu. Seakan ia tak ingat kemesraan semalam. Aida menguap lalu berkata,
“Ini saat nya pergi”.
“Mengapa tergesa !”.
“Malam telah berlalu. Aku ada kerjaan dan janjian”.
Warjo melihat sikap Aida yang aneh. Aida menuju ke samping ranjang membuka laci, mengambil uang di dalam nya dan memasukkan ke tas. Ia kembali menguap. Apa maksudnya. Dalam bingung Warjo bertanya, “Apakah kamu sedang membutuhkan uang”.
“Sama sekali tidak”. Aku sekedar mengambil sesuai kesepakatan kita saja!”.
Dalam keadaan terkejut dan sedih, Warjo masih bertanya,
“Kesepakatan yang mana ?”
“Kesepakatan kita, kamu lupa ?”
Warjo tertawa terbahak.
“Kamu lah yang lupa !”, kata dia.
Aida mengelak.
“Aneh. Kini kamu membicarakan uang, padahal kemarin kamu mengatakan.....
Apa kamu betul-betul lupa”, tanya Warjo sedih.
“Aku atau dia yang sebetulnya gila”, kata Warjo dalam hati.
“Mengapa ?. Apa yang terjadi ?. Katakan pada ku !”
Dengan senyum dingin Aida balik bertanya,
“Apakah kamu suka mengambil tanpa memberi ?”.
“Katanya karena cinta, kamu tak akan meminta !”.
Aida menatap dengan pandangan aneh dan berkata,
“Aku bermaksud memberi malam bahagia, begitulah selalu.....”.
“Itu kan hanya alasan mu saja ?”.
“Tetapi bukankah aku telah membuat mu bahagia”.
Kemarahan Warjo menggumpal seperti topan di cakrawala.
“Dusta yang memalukan.....”.
“Apa sih guna nya begitu, hei pelupa ?. Kamu tak akan mengulangi nya lagi”.
“Bukankah itu hal yang wajar saat hendak pergi ?”, kata Aida sambil berjingkat keluar rumah. Dengan suara rendah Warjo berkata,
“Sebagaimana telah kukatakan, hei pelupa, kamu tak mungkin lagi bisa mengulanginya.....”.
“Siapa bilang kita akan bertemu lagi ?!”.
Saduran dari Cerpen : Naguib Mahfouz.
No comments:
Post a Comment